Monday, 20 August 2007

Glonggong


Judul : Glonggong
Penulis : Junaedi Setiyono
Penyunting : Imam Muhtarom
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 293 hal

Perang Jawa atau De Java Oorlog (Belanda) adalah perang besar dan menyeluruh yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro atau yang dalam novel ini disebut-sebut sebagai Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa

Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran.

Di pihak Belanda perang ini menghabiskan 20 juta gulden dan banyak memakan korban. Belanda kehilangan 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, sedangkan rakyat Jawa yang tewas sebanyak 200.000. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.

Novel Glonggong, adalah novel sejarah berlatar Perang Jawa. Namun bukan novel tentang Pangeran Diponegoro atau tokoh-tokoh perang jawa lainnya. Novel ini mengisahkan seorang pemuda yang namanya tidak akan pernah kita temui dalam buku-buku sejarah. Tokoh utama novel ini bernama Danukusuma yang lebih dikenal dengan nama Glonggong.

Nama Glonggong diperoleh Danukusuma karena kemahirannya bermain perang-perangan dengan menggunakan pedang glonggong. Glonggong adalah tangkai daun pepaya berwarna kuning pucat kehijauan. Oleh anak-anak Jawa pelepah pohon pepaya ini dijadikan pedang untuk bermain perang-perangan. Sedangkan nama Glonggong disandangnya setelah ia bermain perang-perangan dengan Suta, sahabatnya. Ketika ia jatuh terjerembab di tanah, seseorang menariknya dan ternyata dia adalah seorang putrra raja bernama Bendara Raden Mas Antawijaya yang kemudian dikenal dengan nama Kangjeng Pangeran Aria Dipanegara. Ketika itu Pangeran menyapanya dengan panggilan “Glonggong”. Dan sejak itu Danukusuma dipanggil Glonggong oleh teman-temannya dan nama itu terus melekat dengan dirinya hingga dewasa.

Dalam darah Glonggong mengalir darah biru. Namun hidupnya tak semulus teman-temannya yang berdarah biru lainnya. Ibunya seorang Raden Ayu dari daerah Tegalreja (tanah kelahiran Pangeran Diponegoro) yang menikah dengan Kiai Sena, seorang jagabaya (penjaga kemanan) dari wilayah Bagelen. Namun pernikahan ini tak berlangsung lama karena ayahnya hilang ketika terjadi peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Rangga Prawidirja pada tahun 1810. Saat itu Glonggong masih dalam ayunan gendongan selendang ibunya. Ia tak sempat mengingat wajah ayah kandungnya yang tak pernah pulang.

Ibunya kemudian menikah lagi dengan Raden Suwanda. Glonggong tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, sementara dua orang saudaranya tinggal bersama pamannya. Walau telah menikah, ibu glonggong masih terus memikirkan Kiai Sena sehingga kondisi psikisnya terganggu, ia hidup dalam dunianya sendiri, setiap hari dilaluinya mengeram dalam kamar sambil menembangkan tembang-tembang mapacat. Sedangkan Raden Suwanda, ayah tiri glonggong, sibuk dengan kepriyayiannya. Tak ada tegur sapa yang harmonis layaknya bapak dan anak. Ayah tirinya terlampau asing bagi glonggong.

Dalam keluarga yang seperti inilah Glonggong dibesarkan, sejatinya ia tumbuh dalam asuhan kedua orang pembantunya. Setiap hari dilaluinya dengan bermain glonggong bersama anak-anak desa di kampungnya. Ketika Raden Suwanda memperoleh pendamping baru, glonggong dan ibunya diusir dari rumahnya sendiri. Mereka terpaksa harus tinggal di sebuah gubuk di tengah hutan. Dengan setia glonggong merawat ibunya hingga sebuah tragedi merengut nyawa ibunya dan membuat Glonggong harus hidup terlunta-lunta sebatang kara.

Hidup sendirian membuat dirinya bertekad untuk berkelana untuk mencari ayah dan dua kakak kandungnya. Kemahirannya memainkan glonggong juga membuatnya bekerja sebagai pengawal para priyayi keraton. Pekerjaan ini membuatnya memahami bahwa para priyayi umumnya hidup dalam kemewahan harta, tahta, dan wanita yang memabukkan kehidupan mereka. Lalu ia juga bergabung dengan barisan prajurit Pengeran Dipanegoro yang saat itu sedang berjuang melawan Belanda. Saat itu keraton Ngayogyakarta terbelah menjadi dua, satu pihak mendukung perjuangan Diponegoro, di lain pihak bersekongkol dengan Belanda.

Dalam sebuah tugasnya mengawal peti harta karun laskar dipanegaran guna ditukarkan dengan senjata, Glonggong mendapat serangan dari para bagal. Ia terluka cukup parah. Setelah sembuh, ia diperhadapkan dengan munculnya orang yang menyamar menjadi dirinya dan membunuhi penduduk desa. Selain itu ia juga bertekad untuk menemukan kembali harta karun yang direbut oleh para bagal sebagai tanggung jawabnya pada Sang Pangeran.

Novel Glonggong karya Junaedi Setiono, yang sehari-harinya mengajar sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Purworejo ini merupakan novel pertamanya dan langsung didapuk sebagai pemenang ke-empat (harapan I) sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Sebelumnya cerpen dan puisinya pernah memenangi sayembara penulisan cerpen dan puisi. Cerpen dan Puisi-puisinya telah dimuat di media masa lokal (Porworejo), juga dapat ditemui dalam beberapa antologi puisi yang terbit sejak tahun 1988, yang terakhir , kumpulan puisi dan cerpennya dibukukan alam antologi Kemuning (2005)

Walau novel ini berlatar belakang Perang Jawa ini kita tidak akan disuguhkan oleh serunya peperangan antara Laskar Dipanegaran dengan Belanda atau kisah-kisah heroik Sang Pangeran dan laskar-laskarnya dalam membela haknya. Sang Pangeran dalam novel ini hanya muncul sekilas saja, selebihnya novel ini lebih mendeskripsikan kisah kehidupan Glonggong dan tokoh-tokoh lain yang merupakan lapisan pertama dan kedua dari hirarki pasukan Diponegoro. Selain itu novel ini juga mengupas intrik politik dan perilaku kaum bangsawan keraton dalam melawan belanda.

Tak ada deskripsi mendetail baik mengenai peristiwa sejarah, setting lokasi dan waktunya. Melalui kisah hidup glonggong, penulis lebih memilih untuk mengungkap bagaimana kebobrokan kehidupan para priyayi keraton yang memilih hidup nyaman dan mencari aman dengan berpihak pada Belanda. Bahkan yang lebih ironis bagaimana akhirnya pasukan Dipanegaran sendiri yang akhirnya frustasi karena kekalahan-kekalahan yang dideritanya sehingga akhirnya membelot dan mencari jalan sendiri-sendiri.

Karakter glonggong dieksplorasi secara baik oleh penulis sebagai pribadi yang pantang menyerah terhadap kepahitan hidupnya yang tercerabut dari keluarganya, berperang melawan ayah tiri dan saudara kandungnya sendiri, dikhianati oleh guru dan sahabatnya, hingga menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana akhirnya Sang Pangeran yang dijunjungnya tertangkap oleh Belanda. Namun hal ini tidak membuat dirinya undur dari perjuangannya dan tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya terhadap tugas yang diembannya.

Novel setebal 293 halaman ini memiliki plot yang cepat dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca. Untuk lebih menghidupkan novel ini, penulis menggunakan beberapa istilah dalam bahasa jawa. Untuk itu, buku ini menyediakan daftar glosari di halaman akhir yang memuat 74 istilah jawa. Sangat membantu, walau sedikit mengganggu kenikmatan membaca karena harus membolak-balik daftar glosari ketika menemukan istilah yang tidak dimengerti. Mungkin lebih baik diberi catatan kaki saja sehingga pembaca tak perlu terhenti lebih lama untuk membolak-balik buku ini.

Di awal kisah, penulis menyajikan novel ini seolah-olah Glonggong sedang menulis kisahnya kepada Hendrik, sahabat belandanya. Sayangnya tokoh Hendrik dan kisah persahabatannya dengan Glonggong sendiri kurang terekplorasi sehingga saya tak melihat urgensinya mengapa Glonggong sampai perlu menulis kisahnya ini untuk Hendrik.

Ada satu kejanggalan di halaman 111, disebutkan “Uang hasil menang judi sebanyak sepuluh ribu rupiah perak dapat selamat sampai ke purinya” (hal 111). Yang jadi pertanyaan, apakah pada masa itu istilah rupiah sudah mulai digunakan?

Namun terlepas dari kelemahan dan kejanggalan di atas, novel ini tetap menarik untuk disimak Awalnya saya menyangka novel ini seperti layaknya novel-novel pendekar dimana tokohnya menderita, terkucilkan, dan akhirnya menjadi seorang yang besar dan disegani. Rupanya penulis tak terjebak dalam alur seperti itu. Di sini penulis mengelaborasi jalan hidup tokohnya secara lain , glonggong tetaplah glonggong, yang namanya tidak dikenal dan bukan siapa-siapa hingga kisahnya berakhir.

Yang patut diteladani adalah sikap hidupnya yang tetap konsisten membela kebenaran di tengah kehidupan pribadinya yang pahit dan kekecewaannya terhadap teman-temannya dan gurunya yang pada akhirnya memilih hidup nyaman dengan meninggalkan perjuangan melawan ketidakadilan.

Dan seperti diungkap oleh Ahmad Tohari dalam endorsmen buku ini, novel ini mengungkap genetika kebobrokan politikus sekarang yang bisa dilacak dengan jelas dalam novel ini. Jika kita cermati, intrik politik yang terjadi lebih dari seratus lima puluh tahun yang lampau masih terjadi hingga kini. Tidak percaya ? Silahkan baca novel ini.

@h_tanzil

No comments:

Post a Comment

 
ans!!