Saturday, 16 December 2006

Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan aku

Judul : Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan aku
dan cerita-cerita lain
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Desember 2006
Tabal : 268 hal






Apa yang tercerap sebagai kesan bagi kita setelah membaca seluruh cerpen Akmal ?


Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Kurnia Effendi (cerpenis nominator KLA 2006) sebagai kalimat penutup dari makalah yang berjudul “Membongkar Ihwal di Kepala Akmal” yang disampaikan pada saat pre-launch buku ini di Potluck Book Festifal - Bandung, 2 Des 2006.

Pertanyaan itu menggelitik saya untuk segera menjawabnya setelah membaca habis ke-13 cerpen plus kata Pengantar, Memoria, Galeri Publikasi, Galeri Inspirasi , Galeri Apresiasi hingga endorsment di cover belakang buku ini.

Agar teman-teman tidak jenuh membaca [Ulasan] yang biasa saya buat secara formal, ijinkan saya mengulasnya dengan gaya personal.

Ketika melihat tampilan fisik buku ini, terus terang saya agak kurang suka dengan covernya. Terus terang saya paling cerewet dalam soal cover karena bagi saya cover sebuah buku berpengaruh terhadap minat baca saya. (jangan ditiru ya…).

Yang ‘mengganggu’ saya dalam cover buku ini adalah foto patung ibu dan anak. Padahal backgroundnya berupa foto bangunan tinggi dengan dominasi warna biru sangat indah dilihat. Entah apa yang mendasari ilustrasi cover ini, apakah mengacu pada cerpen yang dijadikan judul buku ini dimana salah satu tokohnya adalah seorang ibu yang membunuh anak-anaknya ? Ah, yang pasti foto patung dalam cover buku ini membuat tampilan buku ini menjadi kaku.

Lalu di cover belakang tersaji deretan 7 bh endorsment ! yang membuat saya berdecak kagum, pengendors buku ini adalah orang-orang hebat di bidangnya, mulai dari sastrawan, rohaniwan, kolumnis, aktor, novelis, penyanyi, dan dosen filsafat!

Menurut hemat saya, tak perlulah endorsment sebanyak itu, kesannya koq jadi seperti Kang Akmal nggak ‘pe de’ dengan karyanya sehingga perlu memajang 7 buah endorsment dari orang-orang terkenal. (Ups! Maaf ini anggapan ‘asal’ saya lho..). Menurut saya cukup 2 atau 3 orang saja sehingga tampak lebih elegan dan biarlah karya ini berjuang sendiri tanpa perlu di’bantu’ oleh komentar sekian banyak pakar.

Dari segi lay-out halaman dalam dan ukuran buku saya rasa sangat baik, ukurannya yang ‘handy’ membuat buku ini enak dibaca dan mudah dibawa-bawa. Yang menarik adalah adanya ilustrasi-ilustrasi grafis di tiap cerpennya. Yang mengejutkan adalah adanya halaman-halaman yang hanya diisi oleh satu kalimat dan halaman kosong yang di blok oleh tinta hitam. Lalu ada lagi yang unik, dalam cerpen Hiu di Secangkir Kopi terdapat coretan tanda lingkaran di kalimat-kalimatnnya seakan cerpen tersebut masih berupa draft.

Nah, sekarang saya akan masuk pada isi cerpen.

Cerpen favorit saya sekaligus yang paling inovatif dari ketiga belas cerpen dalam buku ini menurut saya adalah cerpen “Matinya Pengarang Tersantun di Dunia”. Cerpen ini menceritakan persekongkolan antara tokoh wanita dan pria untuk membunuh pengarang yang menciptakan mereka. Jadi seolah-olah tokoh2 fiktif itu ‘hidup’ untuk membunuh si pengarang.

Cerpen-cerpen lainnya tak kalah menariknya. Menurut saya, cerpen-cerpen dalam buku ini menggambarkan Akmal sebagai wartawan. Umumnya cerpen-cerpennya diangkat dari berbagai fakta, misalnya cerpen “Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku”, akan mengingatkan kita akan kejadian di Bandung dimana seorang ibu membunuh ketiga anaknya. Pada cerpen “Dilarang Bercanda Dengan Kenangan” setting ceritanya berkisar pada saat kunjungan seorang milyuner ke Aceh dan flash back ke masa meninggalnya Lady Di Paris. Peristiwa Bom Bali juga mengilhami Akmal untuk membuat cerpen “Prolog Kematian”. Bahkan kematian pesohor TV Steve Irwin oleh cambukan ekor ikan pari-pun disinggung dalam cerpen "Seekor Hiu di Cangkir Kopi”. Dan fakta yang paling gress adalah peristiwa lumpur panas Lapindo yang menjadi latar cerpen “Lebaran Penghabisan”.

Akmal juga saya lihat menyelipkan kritik-krtitik sosial pada beberapa cerpennya, misalnya pada cerpen “Lebaran Penghabisan” budaya open house yang kerap dilakukan oleh para pejabat saat hari Raya Idul Fitri kini dijadikan alat untuk menjilat atasan : “..karena pada hari itulah manusia saling bersilaturahmi dan saling memaafkan tanpa latar belakang sosial atau jabatan…Namun open house mengubah semuanya, bahkan sampai ke kampung-kampung. Siapa yang bisa menjamin bawahan yang datang ke rumah atasannya pada saat lebaran itu benar-benar murni bersilaturahmi dan bukan soal kondite?”. Lalu pada cerpen “Seekor Hiu di Cangkir Kopi”, disinggung pula realita kematian TKI di luar negeri yang sering luput dari perhatian dan terkesan ‘biasa’ dimata pemerintah kita. Dengan cerdas Akmal membandingkannya dengan Presiden Gloria Arroyo dari Filipina yang mempertaruhkan jabatannya untuk membebaskan seorang supir truk yang disandera kelompok bersenjata. (hal 207).

Selain itu ada juga cerpen yang kocak “Boyon” yang menceritakan seseorang yang diberi nama oleh ayahnya dengan Boyon karena ia lahir setelah ayahnya menonton film James Bond, karena namanya tak jamak maka Boyon sering diolok-olok oleh teman-temannya hingga akhirnya ia beberapa kali mengganti namanya. Namun kelak olok-olokan teman-temannya inilah yang akan mengantarnya pada kesuksesan.

Bagi saya seluruh cerpen dalam buku ini bisa dibilang menarik. Setting ceritanya menyebar mulai dari Aceh, Ambon hingga ke London. Kalimat-kalimatnya enak dibaca, kadang lugas dan sederhana tanpa metafora, namun ada juga yang menggunakan metafora-metafora indah. Semua tersaji dengan pas dan tidak berlebih-lebihan. Pengggalan-penggalan fakta dalam tiap cerpennya membuat kisah-kisahnya terasa dekat karena peristiwa2 yang diangkat sebagai latar cerpen merupakan bagian dari berita sehari-hari yang kerap kita baca dalam media cetak ataupun TV. Apalagi kalau kita lihat proses pembuatan cerpen-cerpennya dibuat di tahun 2006 (hanya satu yang dibuat pada tahun 2005)

Walau hampir semua cerpen-cerpennya pernah dimuat di media cetak, namun menurut Akmal cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki perbedaan dengan versi media cetaknya karena terdapat sejumlah penyesuaian, revisi, atau penambahan karakter. Satu langkah yang patut diacungi jempol karena umumnya sebuah buku kumpulan cerpen hanya mencetak cerpen-cerpen sesuai dengan apa yang dimuat di media cetak sehingga lebih tekesan sebuah kliping.

Apakah ada cerpen yang jelek di buku ini….hmm entah karena saya terpesona oleh kemarihan akmal dalam bercerita, entah saya kurang kiritis, saya tak menemukan satu cerpen pun yang saya anggap buruk (ini bukan melebih-lebihkan lho…).

O ya, sedikit hambatan saya temui ketika membaca cerpen “Seekor Hiu di cangkir Kopi”. Coretan-coretan berupa lingkaran dalam kalimat-kalimat dalam cerpen ini sangat mengganggu kelancaran membaca. Entah apa maksud Akmal dan penerbitnya untuk melingkari beberapa kalimat dalam cerpen ini seakan cerpen yang tercetak ini adalah sebuah draft yang masih harus diperbaiki. Hingga kini saya masih penasaran…apa maksudnya ya…?????

Sebagai bonus buku ini juga memuat catatan dari salah seorang dewa sasta Prof.Dr. Budi Darma. Bagi saya masukan-masukan beliau benar-benar membuat saya manggut-manggut serasa dikuliahi secara langsung oleh beliau.

Akhir kata inilah kesan yang saya tangkap setelah membaca buku ini. Satu hal lagi karena profesi Akmal sebagai jurnalis, kadang ketika selesai membaca sebuah cerpen saya sering menduga-duga jangan-jangan ini peristiwa nyata!!!!

Mungkin itulah resiko membaca karya fiksi seorang jurnalis/wartawan, kita dibuat bingung mana fakta mana fiksi…..

Demikian kesan yang saya tangkap, saya harus menggakhirinya karena ada seseorang di kepalaku yang bukan aku yang menyuruhku untuk mengakhiri ulasan ini.

@h_tanzil

No comments:

Post a Comment

 
ans!!